Google Analityc

Saturday, July 23, 2016

Trauma


Di Amerika pada sebuah jaman yang sudah lalu, ada seorang door-to-door salesman. Dia membawa barang – barang dan berjualan dari satu rumah ke rumah lain. Mengetuk pintu, menekan bel, dan menjual dengan penuh kesabaran.


Pada salah satu rumah yang sudah lama kosong, gas elpijinya bocor dan ketika dia menekan bel rumah, karena listrik yang sambungannya kurang baik memercikkan api dan meledaklah rumah itu. Sang salesman hampir mati terpental karena ledakan itu.

Setelah sembuh dari sakitnya. Sang salesman setiap mau menekan bel rumah orang terjadi trauma yang luar biasa. Walaupun dia tahu dan paham statistik kemungkinan meledak laginya rumah itu sangat kecil, dia tidak juga bisa menekan bel itu. Terlalu takut.

Manusia menciptakan sebuah memory, dan memory itu terjadi berdasarkan pengalaman masing2, dan menciptakan sebuah pola cara berpikir yang kadang benar, kadang salah. Yang berbahaya kalau pola ini sebenarnya salah, tapi justru dijadikan sebuah landasan mengambil keputusan tanpa pertimbangan lebih panjang.

Bila seseorang pernah di cakar kucing, dia akan selalu merasa kucing itu berbahaya dan dia akan takut untuk dekat2 dengan kucing, apapun yang dikatakan orang. Memory kita membentuk pendapat kita secara kuat.

Bila seorang penjudi bola, menang besar tiga kali, dan selalu menangnya ketika berpakaian baju dan celana putih ketika menonton pertandingan, maka dia akan mulai yakin memakai baju dan celana putih akan memenangkan dia saat berjudi bola.

Mengapa masih saja banyak orang membeli asuransi pesawat terbang, ketika terbang dari satu kota ke kota lain, padahal bahaya naik taxi di kota dari rumah ke bandara mempunyai kemungkinan kecelakaan yang lebih besar? Karena memory filem kecelakaan pesawat, atau berita kecelakaan pesawat lalu, atau bayangan bahayanya pesawat ber ton ton terbang di angkasa. Di negara maju, tidak ada lagi orang menjual asuransi pesawat terbang dari kota ke kota.

Jangan sampai trauma anda mengekang cara anda berpikir dan bertindak.

Diambil dari bussines wisdom Tanadi Santoso

No comments:

Post a Comment